Pengrajin Tahu Tempe Disebut Pemboros Devisa Puluhan Triliun, Kadin Siapkan Program Budidaya Kedelai Kualitas Impor

SURABAYA, Klik9dotCom – Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) melakukan fokus utama program 2020-2025 dengan menciptakan pengusaha pahlawan devisa. Hal ini diketahui saat Buka Bersama di Ruang Melati, Hotel Tunjungan, Surabaya, Sabtu (1/5/2021) petang.

Upaya tersebut dilakukan dengan mengarahkan para pengusaha khususnya UMKM dapat menciptakan produk dengan orientasi ekspor, mulai kecil hingga besar.

“Apakah itu komoditas pertanian, perikanan, tambang dan sebagainya. Sehingga apabila mereka bisa ekspor, maka devisa akan masuk ke negara kita. Sebab, saat ini devisa kita amat minim,” terang Ketua Umum KADIN Eddy Ganefo saat memberikan keterangan pers.

Ganefo, biasa disapa, menyebut bagi mereka yang bisa melakukan ekspor adalah pengusaha pahlawan devisa. “Atau, paling tidak, kalau tidak bisa ekspor, minimal pengusaha bisa mengurangi bahkan menghentikan impor,” jelasnya.

Baca Juga  Segera Diresmikan, Pemkot Keluarkan Perwali Pembayaran Jembatan Joyoboyo

Dalam hal ini, Ganefo menyoroti pengrajin tahu tempe. Pasalnya, selama ini sebagai pemboros devisa terbesar, puluhan triliun setiap tahunnya. “Karena kedelainya selalu impor dari luar negeri,” ungkapnya.

Untuk itu, saat ini KADIN sedang membuat program budidaya kedelai, yang kualitasnya sama seperti kedelai impor dari Brazil dan Kanada.

Diharapkan, nantinya para pengrajin tahu tempe ini dapat mengurangi impor kedelai secara bertahap. Sehingga, mereka juga dapat disebut sebagai pengusaha pahlawan devisa.

“Pasca lebaran nanti, KADIN akan membentuk tim dengan biaya mandiri, untuk melakukan program budidaya kedelai,” bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua KADIN Jatim Basa Alim Tualeka mengingatkan pemerintah untuk melibatkan KADIN sebagai mitra strategis dalam mengeluarkan kebijakan pembangunan ekonomi.

Baca Juga  Lagi, Nasi Bebek Bungkus Murah Bisa Ditemukan di Lapak Kue Bu Dofik Depan Kampus Bela Negara UPN

“KADIN adalah mitra strategis pemerintah, oleh karena itu, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri tanpa pengusaha-pengusaha yang tergabung di dalam organisasi KADIN,” ucapnya.

Berkaitan urusan ekspor impor, Basa Alim menyarankan agar pemerintah menempatkan orang-orang yang paham ekspor impor di Kedutaan Besar Republik Indonesia.

“Karena di sana itu ada perdagangan antar bangsa, tidak ada perdagangan jual beli, tetapi tukar barang yang dinamakan perdagangan bilateral,” tuturnya.

Nah, untuk urusan ekspor impor itu tidak mungkin dilakukan pemerintah, tetapi dilakukan oleh pengusaha-pengusaha yang bermain ekspor impor. “Karena itu, pemerintah harus hadir dengan memberikan rasa aman, dan kedua berbicara perdagangan dunia,” timpalnya.

Baca Juga  Layanan Retina dan Glaukoma Berbasis Wakaf di Serang Diresmikan Wapres Ma'ruf Amin

Selain itu, di dalam negeri, pemerintah dalam situasi Pandemi, maka kebutuhan makan itu penting. Sehingga, harus melakukan gerakan kembali ke desa dengan menanam, beternak, hingga nelayan.

“Untuk itu, pemerintah harus hadir dengan upaya menstabilkan harga panen dan subsidi luar biasa seperti pada pupuk. Ini untuk merangsang kembali pertumbuhan ekonomi,” tambahnya.

Dalam hal era digitalisasi, Basa Alim akan melibatkan kaum milenial. “Masa depan ekonomi akan kita titipkan pada kaum milenial. Maka, KADIN akan libatkan dan mendorong kaum milenial mampu menciptakan produk dan pemasaran yang seimbang, mengikuti perkembangan teknologi,” pungkasnya. (han)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *