Gelar Evaluasi, Dispendik dan Para Pakar Sepakat PTM 100 Persen Dilanjutkan

PTM 100 PERSEN: Wali Kota Eri Cahyadi saat meninjau pembelajaran tatap muka mulai Senin (10/1/2022) lalu di Surabaya. (KS/ISTIMEWA)

SURABAYA, Klik9.com – Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100 persen untuk jenjang pendidikan anak usia dini (PAUD), SD dan SMP di Kota Surabaya sudah berjalan selama sepekan.

Oleh karena itu, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya bersama sejumlah pakar menggelar evaluasi terhadap PTM 100 persen itu di kantor Dispendik Surabaya, Selasa (18/1/2022). Hasilnya, mereka sepakat PTM 100 Persen di Surabaya bisa terus dilanjutkan.

Hadir dalam pertemuan itu, Pakar Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair), dr Windhu Purnomo, Pembina Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Jawa Timur (Jatim), Estiningtyas Nugraheni, kemudian dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim, dr Dominicus Husada.

Baca Juga  Wali Kota Eri Cahyadi Minta MKKS SMP Swasta Bentuk Program Kompetensi Guru

Seusai rapat, Kepala Dispendik Kota Surabaya, Yusuf Masruh mengatakan, PTM 100 persen tetap berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin. Saat ini, belum ada laporan warga sekolah yang terpapar Covid-19 di lingkungan sekolah.

Namun demikian, pihaknya secara berkala akan melakukan evaluasi bersama pakar epidemiologi, pakar kesehatan masyarakat, IDAI, serta guru dan tenaga kependidikan (GTK).

“Kami ingin orang tua merasa aman dan nyaman ketika menitipkan anak-anak di sekolah. Ini ikhtiar kami bersama untuk memberi layanan terbaik bagi anak-anak di Kota Surabaya,” kata Yusuf.

Bidang Pengembangan, Penelitian & Pendidikan IDAI Jatim, dr Dominicus Husada mengatakan, kebijakan PTM ini tetap dapat dijalankan di Kota Surabaya dengan kehati-hatian. Pihaknya belum melihat alasan yang cukup untuk memberi masukan agar PTM dihentikan.

Baca Juga  KB-TK Al Muslim Rayakan HUT Kemerdekaan ke-75 RI

“Kalau kasusnya melonjak, baru kita lakukan evaluasi kembali,” tegasnya.

Pakar Epidemiologi Unair, dr Windhu Purnomo menjelaskan, sejauh ini Indonesia tampak bagus dalam menghadapi Covid-19 varian Omicron.

Pasalnya, di negara-negara lain, puncak kasus terjadi pada 40 hari sejak kasus pertama ditemukan. Hal itu terjadi di negara-negara Afrika, Inggris, Amerika Serikat, dan lain-lain.

“Sedangkan di Indonesia, kasus pertama ditemukan pada pertengahan Desember. Seharusnya sekarang ini prediksi puncaknya. Tapi sekarang masih di bawah ambang batas bahaya. Jadi, kita tidak usah khawatir dengan Omicron, karena ini sudah seperti influenza biasa,” urainya.

Sementara itu, Estiningtyas Nugraheni menyarankan kepada Dispendik Surabaya untuk mengusulkan revitalisasi Kampung Tangguh dan Kampung Wani Jogo Suroboyo sesuai dengan kondisi terkini dalam mendukung PTM. Hal ini dapat membantu mensterilkan lingkungan sekolah dari para pedagang yang dilarang berjualan selama PTM berlangsung.

Baca Juga  Isra’ Mi’raj Nabi Muhamad SAW, KB-TK Al Muslim Tanamkan Kebiasaan Salat sejak Dini

Selain itu, setiap lembaga pendidikan harus memiliki penanggung jawab dan standar yang jelas untuk pelaksanaan PTM 100 persen.

“Yang paling penting menerapkan 3M dan tidak ada kerumunan. Kemudian ada Satgas Covid-19 dari unsur sekolah, RT, RW, kelurahan dan kecamatan, di mana lembaga pendidikan itu ada. Ini penting untuk membantu sterilisasi lingkungan sekolah,” jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nanik Sukristina mengatakan, pihaknya terus memonitor pelaksanaan PTM di Kota Surabaya. Bahkan, ia memastikan timnya selalu melakukan monitoring tenang protokol kesehatan yang dijalankan di sekolah-sekolah yang melakukan PTM itu.

“Alhamdulillah belum ada penularan untuk anak-anak kita, semoga tidak ada terus,” pungkasnya. (ril/red)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.