KAMPANYE: Calon Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sedang berorasi di hadapan konstituennya di Balai RW 09 Klampis Aji, Sabtu (10/10/2020) pagi. (BM/HARUN)
SURABAYA (BM) – Bagi Eri Cahyadi bukan keputusan mudah saat dirinya akhirnya harus melangkah maju dalam konstelasi Pilwali Kota Surabaya 2020. Sebab saat itu dia sedang berada di puncak karir dengan usia relatif muda dan harus membuat keputusan berat meninggalkan dunia birokrasi yang membesarkan namanya.
Namun pada akhirnya dia harus membuat keputusan penting itu setelah mendapatkan energi positif, dorongan semangat dari tiga wanita yang menurutnya luar biasa, yakni istrinya, ibunya dan tentu saja, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.
“Saya mundur dari ASN tanpa pensiun, saat berada di puncak (Kepala Bappeko), tidak pernah berpikir saat belanja tinggal gesek. Kalau sekarang, mau belanja, tanya istri, tabungan sisa berapa ma?,” ungkap Eri saat orasi politik di Balai RW 09 Klampis Aji, Sabtu (10/10/2020) pagi.
Masih Eri, saat ini baru dia merasakan bagaimana susahnya menjadi pengangguran. “Oleh karena itu, Surabaya ke depan, jangan ada lagi orang yang tidak bekerja,” tegasnya disambut riuh undangan yang hadir.
Lanjut Eri, manakala dirinya menjadi ASN dengan jabatan tinggi, maka yang ia rasakan adalah semua keperluan terpenuhi. Tidak ada rasa kekhawatiran. Namun ibunya berpesan, kalau menjadi wali kota maka bisa menjadi ladang amal jariyah.
“Bu Risma titip kepada saya, untuk menggunakan anggaran Surabaya yang Rp 10 triliun itu untuk pembangunan sumber daya manusia. Karena untuk infrastruktur sudah selesai. Karena itulah yang menjadi amal jariyah kita,” ungkap Eri Cahyadi.
Untuk itu, ia akhirnya memberanikan diri untuk maju dalam konstelasi Pilwali yang dijadwalkan berlangung pada Rabu (9/12) mendatang. (run)







