Destinasi Monumen Nol Kilometer Perbatasan Indonesia – Papua Nugini di Merauke

Klik9.com – Pertandingan di Kabupaten Merauke diawali cabor wushu 26 September 2021. Sementara itu, seremonial pembukaan PON XX Papua 2020 masih 2 Oktober. Waktu luang inipun dimanfaatkan Satgas Merauke Kontingen Jawa Timur untuk meninjau lokasi Monumen Nol Kilometer perbatasan Indonesia – Papua Nugini, Kamis (23/9) di Distrik Sota, Merauke.

Dari pusat kota Kabupaten Merauke ke monumen sekitar 100 km, ditempuh kurang lebih 2 jam dengan iring-iringan 23 mobil kecepatan rata-rata 60 km/jam. Sepanjang perjalanan menerobos hutan lindung tersaji pemandangan alam nan eksotis.

Laju mobil yang kami tumpangi sengaja kami dihentikan, keluar dari iring-iringan. Saat itu, kami tergelitik untuk menyaksikan dari dekat sarang semut terbuat dari tanah liat setinggi 3 meter lebih, bentuknya seperti tumpeng yang kami dijumpai sepanjang perjalanan di tengah hutan.

Musamus, begitu menyebutnya, Joni, sopir kami yang asli putra daerah. Ia mengatakan bahwa sarang semut itu terbentuk setinggi 50 cm setiap tahunnya. Artinya, sarang semut yang kami abadikan itu berusia 6 tahun lebih, uniknya tahan panas, tahan angin, tahan hujan.

Musamus ini ada berjarak di kiri kana bahu jalan yang tak beraspal. Seolah-olah tampak seperti orang-orang yang berdiri rapi menyambut perjalanan pengguna jalan.

Baca Juga  Anggaran Turun, KONI Jatim Pupuk Keyakinan Atlet agar Percaya Diri dengan Kemampuannya

Dari pengamatan langsung, semut-semut ini keluar setelah rumahnya ditendang oleh Joni. Dan ternyata, wujudnya lebih mirip rayap kalau biasa disebut di Jawa. Setelah puas, kami pun melanjutkan perjalanan.

Di lokasi ini masih dijumpai binatang rusa, tetapi keluarnya malam hari. Selain itu, terdapat penyulingan minyak kayu putih milik warga lokal, yang mana tanaman kayu putih ini dijumpai di sepanjang hutan, juga semak belukar dan rawa-rawa.

Tanpa terasa, kami tiba di pelabuhan pertama, yakni Tugu Kembar Merauke – Sabang, hanya berjarak 1000 meter dari pintu gerbang perbatasan Papua Nugini. Momen inipun tak luput dari pengabadian swafoto. Rombongan juga mengajak foto dua perempuan asli daerah yang sedang duduk di bawah tugu.

Disebut tugu kembar, karena tugu satunya ada di Sabang (Aceh), menegaskan bahwa inilah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, yang kemudian populer menjadi lagu nasional. Merauke sendiri menjadi salah satu daerah paling potensial dan aman bagi para tamunya.

Baca Juga  Nyaris Kalah, Futsal Jatim Tahan Imbang 3-3 Lawan Sulsel

Bicara lirik lagu Dari Sabang Sampai Merauke, mengutip ulasan online, ternyata telah terjadi beberapa perubahan di dalam judul dan liriknya. Lagu itu diciptakan R. Soeharjo, dengan judul aslinya “Dari Barat Sampai ke Timur. Namun, pada 6 Mei 1963, lagu itu mendapat perubahan oleh Presiden pertama RI Ir Soekarno menjadi judul seperti sekarang.

Lepas dari tugu kembar, iring-iringan melanjutkan perjalanan kembali. Jarak 500 meter sebelum titik Nol Kilometer terdapat pos penjagaan TNI, dimana sopir diwajibkan mengurangi laju mobil. Tepat di depan pos penjagaan, sopir turun untuk melapor. Tidak lama, kami melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di spot Nol Kilometer, dari yang kami amati masih dalam renovasi, mengingat bersamaan pembukaan PON bakal diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Di lokasi, terdapat pusat oleh-oleh khas daerah. 

Baca Juga  Pemkot Batu Bawa Media Tinjau Hasil Promosi Wisata Magelang di Tengah Pendemi Covid-19

Kemudian ada patung besar Presiden Soekarno, dan menurut penuturan warga di dalam pagar perbatasan yang tinggi itu ada taman wisata yang dijadikan destinasi warga lokal. Sayang masih tutup.

“Maaf mas untuk saat ini tempat ini masih ditutup karena belum peresmian. Kalau dulu ada masyarakat yang masuk tapi pakai surat KLB (Kartu Lintas Batas),” kata Deni, anggota penjagaan di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sota.

Usai itu, kami bergeser ke pusat oleh-oleh daerah, dijual topi burung cendrawasih, tas noken, kaos hingga aksesoris. Namun untuk harga, cukup kompetitif kisaran mulai Rp60 ribu sampai Rp2 juta. Lalu, ada serpihan kayu bekas sarang semut bisa diseduh air panas, dan diminum untuk kesehatan. (har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *