Iis Hendro Gunawan Minta Ibu-ibu untuk Mengontrol Jurnal Kesehatan Keluarga

PENGGERAK IBU-IBU: Ketua Dharma Wanita Kota Surabaya Chusnur Ismiati Hendro Gunawan menerima cinderamata dari Co-Founder NeoClinic Margaret Srijaya, Minggu (17/1/2021) pagi. (Klik9.Com/HARUN)

SURABAYA, Klik9.Com | Hadir pada peresmian layanan drive thru swab PCR NeoClinic oleh Plt Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana di Kotakami Komplek, Jalan Mayjen Sungkono 153, Surabaya, Minggu (17/1/2021) pagi, Ketua Dharma Wanita Persatuan Kota Surabaya Chusnur Ismiati Hendro Gunawan turut memberikan apresiasi kepada Co-Founder NeoClinic Margaret Srijaya.

Wanita yang akrab disapa Iis Hendro Gunawan ini menceritakan awal mula dibuatnya tempat uji usap mandiri tersebut. “Teman-teman ini kan pengusaha muda, kemudian mereka peduli kesehatan. Nah, mereka membuat tempat uji swab,” katanya usai acara.

Istri Sekkota Surabaya Hendro Gunawan ini lebih jauh mengungkapkan. “Saya pikir, ibu-ibu itu takut pergi ke rumah sakit, lalu mereka (Margaret Srijaya,red) untuk membuat tempat swab yang lebih nyaman, sebab mereka yang punya duit itu ingin testing mandiri, sehingga tidak merepotkan pemerintah,” terangnya.

Baca Juga  Kajian Final Belajar Tatap Muka di Sekolah di Tengah Pandemi Covid19

Lanjut Iis, kalau mereka ini Junior Chambers International (JCI) yang anggotanya cukup banyak, yang memiliki orang tua dan segala sesuatu yang harus bertahan di masa pandemi.

Nah, tempat-tempat seperti ini sangat mendukung kalau pemerintah evaluasi zona merah, kuning, hijau,” timpalnya.

Kita (pemerintah,red) ingin tahu, sambung Iis, sebenarnya kondisi penularan itu seperti apa. “Tracing yang dilakukan oleh pemerintah harus didukung. Kalau kita takut ke rumah sakit untuk testing maka gak akan keluar kita memutus mata rantai Covid-19,” tukasnya.

Sebagai Co-Founder ‘Gerakan Perempuan Memutus Mata Rantai Covid-19’, Ia menjabarkan, kalau musim hujan seperti sekarang ini susah kalau (ibu-ibu,red) harus ke rumah sakit, kesibukan mengurus anak sekolah daring.

“Rasanya banyak banget kesibukan yang dilakukan oleh ibu-ibu. Nah, penawaran seperti ini, sebuah akses yang nyaman, mereka juga punya tempat untuk melakukan uji, mereka juga punya harga diri untuk melakukan mandiri, supaya mereka tidak membebani pemerintah,” ulasnya.

Baca Juga  Sudah 135 Perkantoran Diasesmen Satgas Covid-19 Surabaya

Kaitannya dengan wanita, Iis menuturkan bahwa dalam menjalankan protokol kesehatan itu ketaatan, harus di-support oleh kesiapan. Nah, kesiapan itu milik ibu-ibu.

“Ibu-ibu itu yang menyiapkan masker bapaknya, menyiapkan hand sanitizer, menyiapkan rumah dalam kondisi yang taat protokol kesehatan,” jelasnya.

Untuk itu, ia mengimbau kepada ibu-ibu supaya kalau terjadi paparan virus, mereka tidak langsung sakit. “Ini kan wabah. Terpapar gak apa, tapi jangan sakit. Sakit pun gak apa, tapi jangan sampai sesak nafas. Jadi, ibu-ibu itu mengontrol jurnal kesehatan keluarga,” ujarnya.

Iis menambahkan, jurnal kesehatan keluarga itu harus diwaspadai setiap hari, memastikan tiap pagi apakah ada anggota keluarga yang demam.

“Karena yang meninggal itu mereka yang telat. Sebetulnya hari ke 1, 2, 3, 4, 5, 6 mereka ada tanda-tanda, tetapi karena ibunya gak peka, mereka sampai terjangkit parah sesak nafas. Kalau sudah sesak nafas, prognosa (masa depan penyakit) itu jelek,” ucapnya.

Dia menyarankan, intervensi terhadap penciuman dengan minyak kayu putih, dibalurkan minyak gosok dapat membantu pernafasan supaya virus tidak bercokol.

Baca Juga  Wali Kota Risma Panen Raya di Tengah Pandemi Covid19

“Semua informasi kita berikan kepada ibu-ibu, penanganan awal, jurnal kesehatan keluarga, juga kalau ada keluarga yang memburuk dirujuk ke mana, karena yang biasa umek itu ibu-ibu, kalau bapak-bapak lebih cari duit, mikir ekonomi,” imbuhnya.

Kalau ibu-ibu, masih Iis, ya mikir ekonomi, mikir ketahanan pangan keluarga, makanya ini adalah lanjutan dari beberapa kegiatan sebelumnya.

“Ada ‘Gerakan Perempuan Memutus Mata Rantai Covid-19’, ada ‘Gerakan Nasional Budidaya Lele’ untuk mencukupi kecukupan gizi keluarga. Sebelumnya, juga ada ‘Gerakan Ketahanan Pangan’ dengan 10.000 polibag yang akhirnya ditutup dengan 440.000 polibag, itu semua ibu-ibu,” paparnya.

Dharma Wanita sebagai bagian dari masyarakat, harus punya gereget pertama, agar diikuti oleh ibu-ibu yang lain. “Mohon doa agar sehat selalu,” pungkasnya. (han)

 89 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *