Studi Edukasi ke Taman Nasional Baluran Situbondo secara Virtual

Penulis: Wahyuni Tri Astuti | Editor: Harun Effendy

FLORA FAUNA: Peserta studi edukasi ke Taman Nasional Baluran secara virtual, Rabu (6/10/2021) yang digelar SD Al Muslim Jatim. (Dok ISTIMEWA)

Klik9.com – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia mengharuskan kita untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Sehingga kita harus membuat inovasi pembelajaran yang menarik meski pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring masih dijalankan.

Tak terkecuali studi lapangan, program tahunan yang biasanya dilaksanakan langsung ke tempat tujuan, namun selama pandemi kegiatan diadakan virtual. Sesuai namanya, program ini memungkinkan pengunjung mengeksplorasi suatu tempat untuk mendapatkan informasi dari pemandu secara online.

Selain mendukung PJJ, studi lapangan diharapkan bisa memberikan alternatif kegiatan terutama bagi siswa yang mulai bosan dengan belajar dari rumah saja. 

SD Al Muslim, Sekolah Sang Pemimpin mempunyai program studi lapangan ke Taman Nasional Baluran Situbondo khusus kelas 3, Rabu (6/10/2021). Tujuannya adalah “Mengenal dan mengamati keanekaragaman hayati, mengamati pertumbuhan satwa liar dan tumbuhan di hutan”.

Kegiatan diawali sambutan Kepala SD Al Muslim Ustazah Fatimatuz Zahroh SPd MPd yang menjelaskan tentang tujuan kegiatan, sambil tetap menyemangati siswa agar tetap menjaga kesehatan.

Baca Juga  Soal SMP Praja Mukti, Pemkot Surabaya Sudah Siapkan Beberapa Solusi

“Alhamdulilah, meskipun di masa pandemi, SD Al Muslim tetap kreatif membuat kegiatan berkaitan dengan lingkungan, flora, fauna. Sehingga menambah wawasan siswa agar lebih mencintai sesama makhluk dan lebih bersyukur atas karunia Allah,” tuturnya.

Acara yang berlangsung interaktif itu dipandu oleh Bapak Trihari dan Bapak Siyanto. Dijelaskan bahwa Taman Nasional Baluran yang berlokasi di Jl Raya Banyuwangi – Situbondo Km. 35, Wonorejo, Banyuputih, Situbondo diambil dari nama Gunung Baluran di daerah tersebut.

Taman Nasional Baluran merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

Baca Juga  Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko Menerima Kunjungan Kerja Pemkab Sumedang

Pengelolaan Taman Nasional Baluran dilaksanakan berdasarkan prinsip konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang tertuang dalam UU Nomor 5 th 1990 tentang KSDAHE dan UU No 41 th 1999 tentang Kehutanan melalui tiga P yaitu; Perlindungan sistem penyangga kehidupan, Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, dan Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Taman Nasional Baluran dijuluki sebagai Africa van Java karena memiliki keindahan alam yang sama seperti di Afrika. Taman nasional tersebut didirikan pada tahun 1980 dan merupakan taman nasional pertama di Indonesia.

Di tempat ini kaya akan keberadaan flora dan fauna, dimana terdapat 44 jenis flora, 155 jenis burung (di antaranya termasuk burung langka), dan 26 jenis mamalia.

Keberadaan satwa liar seperti gajah, rusa, kerbau menjadi ciri khas kawasan konservasi ini. Mengamati kehidupan hewan liar menjadi pengalaman tersendiri, tak jarang terdapat hewan liar, seperti rusa dan monyet ekor panjang muncul di depan wisatawan yang sedang berkunjung. Jika beruntung, dapat melihat banteng, kerbau, macan tutul dan burung merak.

Baca Juga  Ini Aksi Momentum Kelulusan SMA Al Muslim

Di Taman Nasional Baluran juga terdapat Savana, namanya Savana Bekol yang merupakan padang rumput terluas di Pulau Jawa mencapai sekitar 300 hektar. Savana ini berjarak 12 kilometer dari gerbang. Saat musim hujan, Savana Bekol akan didominasi dengan warna hijau dari keberadaan tanaman Acacia nilotica

Selain flora fauna, kita dapat menikmati keindahan pantai di dalam Taman Nasional Baluran. Terdapat Pantai Bama, Balanan, Bilik, dan Sijile, dan yang paling populer adalah Pantai Bama.

Pantai tersebut berjarak sangat dekat dengan padang savana dan kita dapat menyaksikan kawanan monyet, hutan mangrove, juga olah raga snorkeling di sana.

Harapannya, semoga pandemi ini berakhir dengan cepat, sehingga kita bisa langsung melihat secara dekat satwa-satwa asli Indonesia dan keanekaragaman flora yang menjadi kebanggaan kita semua. (*/ads)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *