Anomali, Sebuah Tantangan di Tengah Pandemi

Klik9.com – Anomali, sebuah kata yang bermakna antimainstream atau sesuatu yang tidak biasa, menjadi sebuah tantangan bagi peserta kelas menulis Batch 3 Padmedia Publisher. Pasalnya, di masa pandemi, kelas menulis daring menjadi salah satu solusi bagi mereka yang terjebak di rumah saja.

Anomali menjadi judul sebuah buku kumpulan cerpen, dimaksudkan sebagai tantangan dari para guru dan pihak penyelenggara kelas menulis cerpen daring tersebut.

Ketika sebuah buku anatologi menjamur, maka kemudahan menerbitkan buku terbuka lebar, sehingga menjadi tantangan bagi para penulis, terutama yang baru belajar menulis, yakni bagaimana menemukan sesuatu yang tidak biasa, baik ceritanya, cara berceritanya, sudut pandangnya, maupun eksekusinya.

Kelas menulis cerpen Batch 3 ini sebenarnya berlangsung sepuluh minggu tatap muka melalui aplikasi Zoom, dengan menghadirkan delapan penulis berskala nasional, di antaranya Damhuri Muhammad, Sunlie Thomas Alexander, Yanusa Nugroho, Kurnia Effendi, Ni Komang Ariani, Yusri fajar, Mashdar Zainal dan Wina Bojonegoro.

Namun di tangan para mentor, kelas yang seharusnya hanya 10 minggu itu menjadi 4 bulan, karena proses pematangan naskah, kurasi dan editing.

Kelas yang diikuti oleh 26 peserta dari berbagai kota dan belahan dunia ini, akhirya menghasilkan 22 tulisan yang dinilai anomali. Dan peluncuran bukunya dilakukan secara daring, Minggu (4/4/2021) siang tadi, melalui aplikasi Zoom dan YouTube.

Baca Juga  Ditunjuk Presiden Jadi Mensos, Wali Kota Risma: Terima Kasih Warga Surabaya

Menurut Wina Bojonegoro, CEO Padmedia Publisher, hadir sebagai pembicara utama dalam peluncuran buku adalah Prof Djoko Saryono Mpd, yang akan membedah dunia sastra perempuan, serta Sunlie Thomas Thomas Alexander yang akan membedah karya hasil murid kelas menulis tersebut.

Pada kesempatan tersebut para murid membacakan cuplikan karya dengan dramatic reading, agar acara ini menjadi hiburan tersendiri di saat pandemi. 

Berikut adalah nama para penulis beserta judul cerita pendek mereka yang dihasilkan dengan memerah segala kemampuan, melalui riset beberapa bulan, dan pembantaian antar sesama murid dan guru.

Sinopsis Cerita :

Doan Widiandhono dalam Cerita Pendek Tentang Cerita-cerita Pendek, adalah cerita fantasi tentang catatan kehidupan seorang moralis yang ternyata tidak lolos menuju pintu surga, hanya karena persoalan selilit.

Mirip dengan cerita Quo Vadis Justitia yang ditulis Evie Suryani, akankah kita lolos dari api neraka jika di dunia kita tidak berlaku adil pada sesama manusia?

Baca Juga  Pemerintah Resmi Keluarkan PP Nomor 70 Tahun 2020 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri

Cerita senada ditulis oleh Tedy Heryadi, Dua Penulis Jasa di Insulinde, menggunakan metafor malaikat yang bertukar peran dalam mencatat kebaikan dan keburukan, ternyata manusia hanyalah hamba-hamba yang pamrih.

Kisah-kisah fantasi juga dapat ditemukan di buku ini, antara lain Celung karya Adekaart. Kisah anomali tentang pesugihan, kita biasa mengenal tuyul atau babi ngepet, di cerpen ini pesugihannya adalah kucing hitam.

Candala Dan Sepasang Pembunuh Bayaran adalah karya Winda Listyani yang juga kategori fantasi, bagaimana sepasang sepatu dapat menjadi pembunuh.

Dunia Tanpa Tuan sebagai karya utama Endang P Uban merupakan sebuah anomali POV, dimana yang menjadi narator adalah sifat-sifat di dalam diri manusia.

Dunia psikologi yang bertautan dengan legenda atau mitos dibahas dalam Tulah Asmara karya Eva K Sundari yang mengangkat kehidupan anak-anak mongolid. 

Sementara benda-benda bicara juga ditemukan dalam Memahat Ibu karya Hanuta.

Bidang Berwarna adalah ruang-ruang dan tembok yang berbicara dan melakukan pengakuan, merupakan karya Jani P Jasfin yang pertama.

Baca Juga  Delegasi Menhub Pantau Arus Mudik/Balik Libur Nataru Di Gapura Surya Nusantara

Serupa dengan karya Made D Adnjani yang diwakili sebuah cermin untuk bertutur tentang manusia.

Karya Sari Sahara, Penakata pun merupakan benda bicara penuh kritik bagi manusia yang rakus dan penuh intrik.

Seperti yang ditulis oleh Rie Blora, benda berupa Sampur bicara soal sisi gelap laki-laki dalam dunia Tayub.

Metta Mevlana menulis benar-benar anomali, yaitu merangkai cerita hanya dengan satu titik dalam judul Nukilan dari Bab XI/21: Hudhud sementara.

Iva Hasyim mencatat perjalanan anomali seorang perempuan yang dinilai baik, namun kuasa Tuhan akhirnya takdir bicara lain.

Lala Khansa adalah peserta termuda di kelas ini, usianya baru 22 tahun, ia menorehkan kisah seorang pelukis yang mengalami kebimbangan dalam menemukan tujuan hidup.

Sementara Pada Sebuah Ujung karya Leny Milla justru mengisahkan seseorang yang ingin segera menemukan akhir, Pada Sebuah Ujung.

Sementara Dian KD menuliskan nasib para sapi aduan yang berakhir di tangan jagal di Madura, Takdir Kacong. (ads/han)

 16 Views

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *