Tak Dicairkan, Anggota Mekaar Penerima Banpres Rp2,4 Juta Datangi BNI Cabang Tropodo

Yulika (kiri) bersama anggota Mekaar penerima Banpres di BNI Cabang Tropodo, Senin (3/11/2020) siang. (FOTO/HARUN)

SIDOARJO (BM) – Tujuan pemerintah memberikan akselerasi bantuan likuiditas keuangan kepada pelaku usaha mikro terdampak pandemi Covid-19 adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi kerakyatan. Salah satunya, bantuan presiden (Banpres) yang disalurkan melalui PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar.

Kebijakan pemerintah memberikan bantuan senilai Rp2,4 juta ini pun disambut gembira oleh anggota Mekaar Kelompok Gisik Asin, Desa Gisik Kidul, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo yang nama-namanya tercantum dalam daftar penerima Banpres tersebut.

Mekaar

Namun, bantuan likuiditas keuangan yang tercetak Rp2,4 juta tanggal 16 September 2020 di dalam Buku Tabungan BNI Cabang Tropodo itu kenyataannya belum bisa dicairkan karena dalam posisi masih terblokir hingga berita ini disusun, Senin (2/11/2020) sore.

Kejadian tersebut terungkap saat lima anggota PNM Mekaar Sedati Asri mendatangi Kantor BNI Cabang Tropodo di hari yang sama. Pasalnya mereka sudah gerah dengan janji petugas Mekaar yang biasa disapa Hani.

Baca Juga  Pemkot Surabaya Bakal Luncurkan Aplikasi E-Peken, Berdayakan UMKM dan Toko Kelontong

Kelima anggota yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu yakni Ngatmina, Damini, Eni Fatmawati, Sumiati dan Mujiati ini sengaja mendatangi Kantor BNI Cabang Tropodo untuk menanyakan kejelasan waktu pencairan Banpres tersebut. Sebab di daerah lain kabar yang beredar sudah cair.

Kepada awak media, Yulika selaku pihak yang dimintai tolong oleh kelima anggota tersebut mengatakan bahwa sedianya kelima anggota ini akan mendatangi Kantor PNM Mekaar Sedati Asri yang beralamat di Pondok Sedati Asri Blok FA 12. Namun tidak diperbolehkan oleh Hani.

“Kami tadinya mau ke kantor Mekaar tapi tidak diperbolehkan mbak Hani. Terus kami malah disuruh tanya ke BNI kapan cairnya. Padahal mbak Hani janji lima hari cair, yang semestinya minggu kemarin. Nah ini sekarang janji lagi minggu depan,” ungkap Yulika.

Baca Juga  Bantu Kinerja Dewan Pers, Kepengurusan PD MIO Kota Surabaya Terbentuk

Saat awak media bermaksud menanyakan ke CS BNI Cabang Tropodo antriannya sangat panjang, sementara kepala cabang sedang tidak di tempat. Namun petugas keamanan memberikan informasi kalau sebenarnya uang bisa diambil kalau pihak koperasi (Mekaar) datang ke BNI Cabang Tropodo untuk pengajuan membuka blokirnya.

Tahu kalau yang bisa buka blokir adalah pihak Mekaar, Yulika lantas menghubungi Hani. Namun, dijawab itu kewenangan kepala cabang yang nanti ke BNI.

“Kelima orang ini minta tolong pak, agar bisa dicairkan secepatnya,” mohon Yulika kepada awak media.

Saat awak media mencoba menghubungi Hani untuk tahu kejelasan pihaknya kapan ke BNI Cabang Tropodo, justru meremehkan awak media. “Mau buat berita apa pak? Wkkw,” katanya melalui Pesan WA.

Baca Juga  Cecap Sei Sapifood, Sandiaga Uno Bagi Kiat UMKM Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Kepala Cabang Mekaar Sedati Asri yang biasa disapa Dita saat didesak ternyata mengaku kalau belum ke BNI Cabang Tropodo. “Saya belum ke BNI,” katanya melalui Pesan WA.

Padahal, Senin (26/10) pekan lalu, Hani mengatakan kalau Dita sudah ke BNI. “Mbk Dita udh ke bank,” ucapnya melalui Pesan WA kala itu.

Kinerja lamban petugas Mekaar Sedati Asri ini tentu saja sangat merugikan pemerintah dan masyarakat penerima Banpres yang ingin ekonomi kerakyatan stabil di tengah pandemi Covid-19.

“Sebagai anggota, kami bayar angsuran tertib, juga ada bunganya, kenapa giliran kita dapat bantuan pemerintah, kok mereka lambat, kasihan kami orang desa,” keluh kelima anggota itu menutup wawancara. (run)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *